Rabu, 13 Februari 2013

Sifat Terpuji yang Disukai Allah SWT

AMALAN baik dan terpuji adalah sifat yang menjadi perhiasan diri seorang Muslim. Dalam pengertian tasawuf, sifat yang baik ini dikenali sebagai mahmudah. Sifat ini kadangkala lahir dalam diri seseorang secara semula jadi, sementara yang lainnya perlu dipelajari bagi mengamalkannya dalam
kehidupan seharian.
Antara sifat mahmudah ialah bertaubat iaitu meninggalkan perbuatan dosa dan menyesali dosa yang telah dilakukan.
Syarat taubat daripada dosa antara manusia dengan Allah ialah meninggalkan perbuatan berdosa, berazam tidak akan membuatnya lagi.
Selain itu, menyesal atas perbuatan berdosa lalu, jika dosa itu dengan manusia, ia perlu ditambah dengan satu syarat lagi, iaitu mengembalikan hak orang yang termakan atau terambil atau meminta maaf daripadanya.
Mengenai taubat, Allah telah berfirman yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah cintakan orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci." * (Al- Baqarahm, ayat 22)
Satu lagi sifat terpuji ialah Khauf * takut kepada Allah dengan melihat kepada tanda-tanda kebesaran dan keagungannya. Dengan itu, ia akan timbul rasa ingin beribadat kepada Allah serta berusaha mencari keredaan-Nya.
Di samping khauf, hendaklah pula ada sifat rija'i iaitu mengharapkan rahmat Allah. Seseorang Muslim hendaklah selalu berada antara takut dan harap. Takut terhadap azab Allah dan harapkan rahmat Allah.
Bagaimanapun, manusia tidak boleh pula terlalu terpedaya dengan mengingat (mengharap) rahmat Allah semata-mata tanpa sebarang amal dan takut. Jangan pula terlalu takut hingga lupa kepada rahmat Allah dan menjadi orang yang putus asa. Dalam hubungan ini Allah berfirman, bermaksud: "Beritahu hamba-hambaKu bahawa aku Maha Pengampun lagi Penyayang dan sesungguhnya
azabku pula adalah azab yang pedih." * (AI-Hijr - 49) Umat Islam juga digalakkan mengamalkan sifat sabar iaitu abah menghadapi ujian hidup dan tidak menyumpah nasib atau diri apabila ditimpa kesusahan.
Sabar ada tiga jenis, iaitu sabar menghadapi ujian dan pencerobohan hidup, sabar dalam menunaikan kewajipan kepada Allah dan sabar dalam meninggalkan larangan Allah.
Bersyukur pula ialah memuji Allah atas segala nikmatnya dan memandang bahawa segala puji adalah bagi Allah sedang manusia itu hanya sebab bagi mendapatkan rahmat itu.
Syukur itu ada tiga bahagian: Syukur dengan lidah * mengucap pujian terhadap Allah.
Bersyukur dengan hati * reda dan senang dengan apa yang diberi Allah, dan syukur dengan anggota * mengarahkan segala nikmat yang diberi ke tempat yang diredai Allah. Satu lagi sifat terpuji ialah ikhlas ialah beramal kerana Allah semata-mata bukannya riak. Beramal untuk mengharapkan pahala dan mengelakkan diri daripada azab tidak bertentangan dengan sifat keikhlasan hamba Allah, kerana Allah sendiri telah menyuruh kita meminta nikmat syurga dan menjaga diri dari azab neraka dalam banyak ayat al-Quran. Sentiasa mengingati mati juga boleh menebalkan iman seseorang. Erti mengingati mati ialah meyakini segala yang hidup pasti akan mati. Kita tidak tahu bila, di mana dan bagaimana kita akan mati. Oleh itu, kita hendaklah selalu bersedia dengan amalan untuk menghadapi maut.Wallahu a'lam bishawab.

Rahasia Waktu (Tafsir Q.S Al-Mu'minun: 112-114)

RAHASIA WAKTU....... [ al-Mu`minun: 112-114 ]


(112) قالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنينَ َ
Bertanya (Tuhan): Berapa bilangan tahun kamu berdiam di atas bumi?

(113) قالُوا لَبِثْنا يَوْماً أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْئَلِ الْعادِّينَ َ
Mereka menjawab: Kami telah berdiam di sana sehari atau se­terigah hari. Cobalah tanyakan kepada orang yang pandai menghitung.

(114) قالَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلاَّ قَليلاً لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Berkata (Tuhan): Tidaklah lama kamu berdiam di sana, hanya sedikit, kalau kamu ketahui.


Ulama Al-Maraghi memberi penjelasan yang amat lugas dalam tafsirnya. Menurutnya, pertanyaan Allah kepada para penghuni neraka itu merupakan celaan dan penghinaan. Maksudnya supaya jelas bagi mereka bahwa kehidupan dunia yang mereka kira panjang sesungguhnya sangat singkat. Apalagi jika dibandingkan dengan azab berkepanjangan yang tengah mereka `nikmati'. Ini akibat ketika di dunia, mereka lalai akan akhirat dan tidak mempergunakan waktu dan kehidupannya sesuai hakikatnya.

Hasan Al-Bana pernah mengatakan, "Waktu adalah kehidupan. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan." Begitu pentingnya waktu, sampai Allah bersumpah dengan waktu. "Wal `ashr, demi masa," kata Allah dalam surat al-Ashr. Betapa Allah juga mementingkan waktu melalui sumpahnya yang lain dengan menggunakan satuan waktu yang lebih beragam. Misalnya, walfajri, demi waktu fajar (al-Fajr:1), wadhdhuha, demi waktu dhuha (Adh-Dhuha:1), wallaili, demi waktu malam (asy-Syams:3), wannahari, demi waktu siang (asy-Syams: 4).

Sesungguhnya di balik perhatian Allah terhadap waktu terdapat pesan penting buat manusia, yaitu agar mereka juga memperhatikan dan mempergunakan waktu sebagaimana mestinya yakni dengan beribadah secara total dan ikhlas kepada-Nya. Tentu saja untuk bisa memperlakukan waktu dengan semestinya itu harus ada pemahaman yang benar tentang keberadaan dan hakikatnya bagi kehidupan manusia.
Hal ini penting karena, ternyata dimensi waktu al-Qur'an dan akhirat sangat berbeda dengan dimensi waktu yang dijalani manusia di dunia. Dengan mengetahui perbedaan dimensi itu seorang Muslim akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupannya, karena ia pasti akan memasuki waktu akhirat sebagai tempat pembalasan.

Azab yang Mutlak
Dimensi waktu tidak berlaku pada Allah. Dia tidak mengenal adanya siang dan malam, masa sekarang, masa yang telah lewat maupun masa yang akan datang. Allah pun tidak berkembang, berkurang, menyusut ataupun berubah. Dia tidak mengenal masa kanak-kanak dan kemudian beranjak dewasa lalu akhirnya menjadi tua. Dia tidak berawal dan tidak berakhir.

Waktu adalah sebuah makhluk ciptaan Allah yang paling unik. Karenanya, Dia Maha Ada sebelum adanya semua makhluk di jagat raya ini, dan Maha Kekal serta Maha Abadi setelah hancur leburnya seluruh makhluk pada hari akhir (qiyamat nanti). Allah sudah ada sebelum `waktu' diciptakan, dan Dia akan tetap ada meskipun `waktu' sudah tak berlaku lagi. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dialah yang Maha Pertama dan Maha Terakhir." (al-Hadid: 3)
Maka ketika al-Qur'an menyebutkan Allah itu sebagai dzat Yang Pertama dan Yang Terakhir, bukan berarti Dia ada masa permulaan masa berakhirnya. Karena, bagi Allah tidak ada istilah sebelum atau sesudah.
Allah Maha Hidup dalam eksistensi-Nya yang abadi. Sedangkan manusia baru hidup ketika ia dilahirkan kemarin. Dan kini ia menjalani kehidupan itu serta hari esok yang akan ditempuhnya. Adapun sejarah kehidupan manusia, diwarnai oleh berbagai peristiwa dan kejadian, pada dasarnya telah tertulis serta terangkum dalam al-Qur'an. Semuanya sudah tercatat sebelum penciptaan alam ini dalam ilmu Allah. Sebagaimana firman Allah kepada Nabi Musa `Alaihis salaam:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُم بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah". Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.


Yang dimaksud dengan hari-hari Allah adalah berbagai peristiwa yang sudah terjadi pada ummat-ummat terdahulu. Baik peristiwa berupa kejayaan atau kehancuran, kenikmatan ataupun siksaan yang mereka alami. Seperti bencana banjir yang dialami oleh ummat Nabi Nuh As. Angin topan yang menimpa kaum `Aad dan Tsamud. Gempa bumi yang menimpa kaum Sodom dan Gomorah (kaum Nabi Luth As) dan lain sebagainya. Semua peristiwa ini terekam dengan jelas dalam sejarah ummat manusia. Tinggal manusia, apakah mereka mau mengambil pelajaran atau semata-mata menjadikannya dongeng alias hikayat.
Bagi Allah, sama saja antara masa yang akan terjadi besok ataupun seratus tahun lagi. Karenanya tidak heran kalau dalam al-Quran, Allah menyebutkan segala peristiwa yang akan terjadi pada hari qiyamat kelak dengan kata kerja berbentuk keterangan lampau (madhi, past tense). Padahal peristiwa tersebut baru akan terjadi di masa mendatang. Sebagaimana firmannya,


"Kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu kami kumpulkan mereka itu semuanya." (Al-Kahfi:99)
Dalam ayat itu kata nufikha (meniup) dan jama'naa (kami kumpulkan) adalah kata kerja berbentuk lampau.
Juga firman-Nya, "Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi." (Az-Zumar:68)
Seluruh peristiwa yang disebutkan dalam al-Qur'an itu sebenarnya baru akan terjadi kelak di hari kiamat. Namun ketika Allah menyebutkannya dengan menggunakan kata kerja berbentuk lampau, di dalamnya pasti terkandung rahasia. Yaitu bahwa semua yang diberitakan itu merupakan sesuatu yang mutlak dan pasti terjadi. Sehingga tidak boleh ada keraguan sedikitpun.
Ini merupakan suatu bukti, bahwa Allah itu Maha Tinggi serta Maha Mulia dari keterbatasan dimensi waktu dan tempat (ruang). Dia adalah dzat yang memberlakukan waktu dan masa kepada semua makhluknya, hingga Maha Suci Allah dari keterikatan dengan waktu.
Satu Berbanding Seribu
Al-Qur'an menjelaskan, Allah memberlakukan waktu yang berbeda atas tiap-tiap jenis makhluknya. Umpamanya, satu hari bagi malaikat Jibril As itu sama dengan 50 ribu tahun lamanya bagi makhluk yang bernama manusia. Al-Qur'an menerangkan hal ini dengan firman-Nya, "Para malaikat dan malaikat Jibril naik kepada Allah dalam sehari yang ukurannya sama dengan 50 ribu tahun (ukuran manusia)." (Al-Ma'arij: 4)
Sementara itu, ayat lain menjelaskan, satu hari bagi para malaikat sama dengan seribu tahun lamanya bagi manusia. Sebagaimana firman-Nya, "Dia mengatur urusan dari langit ke bumi kemudian urusan itu naik (dibawa oleh malaikat) kepadanya dalam satu hari, yang ukuran lamanya seribu tahun menurut perhitunganmu." (as-Sajdah: 5)
Allah juga mengisyaratkan, "Sesungguhnya sehari di sisi Rabbmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung." (Al-Hajj:47)
Apabila seseorang meninggal dunia kemudian nanti dibangkitkan kembali, maka sebenarnya ia keluar dari satu lorong waktu ke lorong waktu yang lain. Oleh karena itu, sangat luar biasa bahwa ribuan tahun waktu yang dijalani oleh manusia, baik itu dalam kubur ataupun hidup di dunia yang fana ini, hal itu bagi Allah hanyalah satu hari atau sekejap saja.
Dalam hal ini, Allah juga telah mengisyaratkan dalam firman-Nya, "Dan pada hari terjadinya qiyamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja). Seperti itulah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran). Sedangkan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan berkata kepada orang-orang kafir, `Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah sampai hari kebangkitan. Maka inilah hari kebangkitan itu, akan tetapi kamu selalu tidak meyakininya." (Ar-Rum:55-56)
Di ayat lain Allah berfirman, "Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (dimana mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal di dunia melainkan sesaat pada siang hari. Inilah suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasiq." (Al-Ahqaf: 35) Dalam ayat lain disebutkan hanya sebatas waktu sore atau pagi. (An-Naazi'aat:46)
Maka jelaslah sudah, bahwa berabad-abad lamanya kehidupan di dunia ini jika dibandingkan dengan saat kebangkitan dari kubur itu hanya satu hari, atau setengah hari dan bahkan hanya beberapa saat saja.
Dewasa ini, keanekaragaman lorong waktu itu bisa dijelaskan lewat teori relativitas Albert Einstein, yang dikembangkan terus oleh ilmuwan lainnya. Setiap susunan tata surya di alam ini mempunyai kronologi waktunya sendiri. Teori ini membuktikan bahwa memang ada perbedaan waktu dalam di antara alam ciptaan Allah, yakni antara alam manusia dan alam malaikat, antara di dunia dan di akhirat.
Kalau manusia kelak akan memasuki alam akhirat, maka dimensi waktu yang berlaku dimensi akhirat yang perbandingannya antara satu berbanding seribu sampai 50 ribu. Bayangkan, bagaimana pedihnya siksaan selama berabad-abad di akhirat (An-Naba: 23), jika perhitungan waktunya harus dikalikan seribu dari perhitungan waktu di dunia. Bila satu hari di akhirat sama dengan seribu hari di dunia, maka siksaan di akhirat itu akan berlangsung selama 24 ribu jam. Kenyataannya sekarang tiga detik saja terkena api, manusia langsung kesakitan.
Akan tetapi Allah juga berkuasa untuk mengubah ketentuan waktu itu kapan saja. Contoh yang paling gamblang adalah kisah Nabi Uzair As yang dibuat tertidur selama seratus tahun dan para pemuda ashabul kahfi selama 309 tahun. Padahal mereka masih berada di alam dunia.
Setiap manusia akan merasakan betapa sebenarnya hidup di dunia, yakni bila mereka sudah berhadapan dengan pembalasan yang akan berlangsung lama. Beruntung kalau balasan itu diberikan kepada manusia beriman, sebab tidak lain itu merupakan kenikmatan tiada tara. Tapi luar biasa ruginya kalau balasan itu diberikan kepada manusia durhaka, sebab tidak lain itu adalah siksaan yang sangat pedih dan abadi.

Maksiat yang Disegerakan Balasannya (Kajian Hadits)

Dari Ibnu Umar Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi kami (pada suatu hari) kemudian beliau bersabda,' "Wahai kaum Muhajirin, lima perkara kalau kamu telah diuji dengannya (kalau kamu telah mengerjakannya), maka tidak ada kebaikan lagi bagi kamu. Dan aku berlindung denganAllah SUBHANAHU wa Ta’ala., semoga kamu tidak menemui zaman itu. Perkara-perkara itu ialah:
  1. Tidak tampak perzinaan pada suatu kaum sehingga mereka berani berterus terang melakukannya, melainkan akan berjangkit di kalangan mereka wabah penyakit menular (Tha 'un) dengan cepat, dan mereka akan ditimpa penyakit-penyakit yang belum pemah menimpa umat-umat yang telah lalu.
  2. Dan tiada mereka mengurangkan sukatan/ukuran dan timbangan, kecuali mereka akan diuji dengan kemarau panjang dan kesulitan mencari rezeki dan kezaliman dari kalangan pemimpin mereka.
  3. Dan tidak menahan mereka akan zakat harta benda kecuali ditahan untuk mereka air hujan dari langit. Jikalau tidak ada binatang (yang juga hidup di atas permukaan bumi ini) tentunya mereka tidak akan diberi hujan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  4. 4. Dan tiada mereka menyalahi akan janji Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menurunkan ke atas mereka musuh yang akan merampas sebagian dari apa yang ada di tangan mereka.
  5. Dan apabila pemimpin-pemimpin mereka tidak melaksanakan hukum Allah yang terkandung dalam Al-Qur'an dan tidak mau menjadikannya sebagai pilihan, maka (di waktu itu) Allah akan menjadikan bencana di kalangan mereka sendiri. "
Sumber: HR. Ibnu Majah

Penjelasan Hadits:
  1. Kemaksiatan seperti perzinahan yang telah tampak dengan terang-terangan akan berakibat pada ditimpakannya Penyakit Tha'un (penyakit menular seperti kolera dan Aids) 
  2. Kesulitan mencari rezeki dan kezaliman pimpinan adalah disebabkan dari rakyat yang mengurangkan sukatan, ukuran dan timbangan.
  3. Kemarau panjang disebabkan tidak mengeluarkan zakat.
  4. Kekuasaan musuh mengambil sebagian dari apa yang dimiliki kaum Muslimin (seperti hilangnya Tanah Palestina dari tangan kaum Muslimin) disebabkan mereka mengkhianati janji-janjinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  5. Perang saudara yang berlaku di kalangan kaum Muslimin disebabkan mereka mengabaikan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai undang-undang di dalam kehidupan.

Empat Pintu Kemaksiatan

Maksiat itu terjadi pada seseorang setidaknya melalui empat pintu. Barang siapa yang bisa menjaga empat pintu tesebut maka berarti dia telah menyelamatkan agamanya. Adapun empat pintu yang dimaksud adalah

Pertama. Al-Lahazhat (Pandangan pertama)
Al-Lahazhat ini bisa dikatakan sebagai "provokator" syahwat atau utusan syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam menjaga kemaluan, maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa kendali niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan. Di dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Rasulullah : "Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai hari kiamat".
Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melairkan syahwat. dan dari syahwat itu akan timbullah keinginan. Kemudian keinginan itu menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, apa yang tadinya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Oleh karenanya, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah, bahwa: "Bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya".
Pandangan yang dilepaskan begitu saja dapat menimbulkan perasaan gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas-panasi. Pandangan yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah yang tidak pernah mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak panah itu benar-benar mengena di hati orang yang memandang. Padahal, satu pandangan yang dilarang itu dapat melukai hati dan dengan pandangan yang baru berarti dia menoreh luka baru di atas luka lama. Namu ternyata derita yang ditimbulkan oleh luka-luka itu tak bisa mencegahnya untuk kembali terus-menerus melakukannya.

Kedua. Al-Khatharat (Pikiran yang melintas di benak)
Adapun "Al-Khatharat" (pikiran yang melintas di benak) maka urusannya lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas yang baik ataupun yang buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan (untuk melakukan sesuatu) yang akhirnya berubah menjadi tekad yang bulat. Maka, barang siapa yang mampu mengendalikan pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan nafsunya. Namun orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran-pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan barang siapa yang menganggap remeh pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia inginkan, akan menyeretnya pada kebinasaan. Pikiran-pikiran itu akan terus melintas di benak dan di dalam hatinya, sehingga akhirnya akan menjadi angan-angan tanpa makna (palsu).
Angan-angan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari ketidakmampuan sekaligus kemalasan, dan melahirkan sikap lalai yang selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya berangan-angan disebabkan karena dia tidak berhasil mendapatkan realita yang diinginkan sebagai pelampiasannya, maka dia merubah gambaran realita yang dia inginkan itu ke dalam hatinya, dia akan mendekap dan memeluknya erat-erat. Selanjutnya dia akan merasa puas dengan gambaran-gambaran palsu yang dikhayalkan oleh pikirannya.
Padahal pikiran-pikiran serta ide-ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari hal-hal yang paling mulia dan paling bermanfaat, dan orientasinya hanya untuk Allah SWT dan kebahagiaan di alam akhirat nanti.

Ketiga. Al-Lafazhat (Kata-kata atau Ucapan)
Adapun tentang Al-Lafazhat (kata-kata atau ucapan), maka menjaga hal yang satu ini adalah dengan cara mencegah keluarnya ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai dari lidah. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin bebicara, hendaklah seseorang melihat dulu apakah ada manfaat dan keuntungannya atau tidak? Bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk berbicara. Dan bila dimungkinkan ada keuntungannya, dia melihat lagi apakah ada kata-kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata-kata tersebut? Bila memang ada, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Sahabat Mu'adz bin Jabar pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang amal apa yang dapat memasukkannya ke dalam Jannah dan menjauhkannya dari api Neraka. Lalu Nabi SAW memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari amal tersebut, setelah itu beliau bersabda : "Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua itu?" Dia berkata: "Ya, Wahai Rasulullah". Lalu Nabi SAW memegang lidah beliau sendiri dan berkata: "Jagalah olehmu yang satu ini". Maka Mu'adz berkata: "Adakah kita bisa disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab : "Ibumu kehilangan engkau ya Mu'adz, tidaklah yang dapat menyungkurkan banyak manusia diatas wajah mereka (ke Neraka) kecuali hasil (ucapan) lidah-lidah mereka?" At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih".
Sungguh mengherankan, banyak orang yang merasa mudah dalam menjaga dirinya dari makanan yang haram, perbuatan aniaya, zina, mencuri, minum-minuman keras serta melihat pada apa yang diharamkan dan lain sebagainya, namun merasa kesulitan dalam mengawasi gerak lidahnya, sampai-sampai orang yang dikenal punya pemahaman agama, dikenal dengan kesuhudan dan ibadahnya pun, juga masih berbicara dengan kalimat-kalimat yang mengundang kemurkaan Allah SWT tanpa dia sadari, seperti berdusta, memfitnah, dan lain-lain.
Para ulama salaf sebagian mereka ada yang memperhitungkan dirinya, walau hanya sekedar mengucapkan: "Hari ini panas dan hari ini dingin". seorang sahabat ada yang berkata pada pembantunya: "Tolong ambilkan kain untuk kita bermain-main". Lalu dia berkata. "Astaghfirullah, aku tidak pernah mengucapkan kata-kata kecuali aku pasti mengendalikan dan mengekangnya, kata-kata yang tadi aku katakan keluar dari lidahku
tanpa kendali dan tanpa kekang...."Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memegang lidahnya dan berkata: "Inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah".
Anggota tubuh manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, dan dia juga yang paling berbahaya pada manusia itu sendiri.... Seharusnya kita selalu memperhatikan sebuah hadits Nabi dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah : "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir bila dia menyaksikan suatu perkara maka hendaklah dia mengatakan yang baik-baik atau diam saja".

Keempat. Al-Khathawat (Langkah Nyata Untuk sebuah Perbuatan)
Adapun tentang Al-Khathawat (langkah nyata untuk sebuah perbuatan), hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa diharapkan mendatangkan pahala-Nya, bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah tersebut tentu lebih baik baginya. Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah yamg dilakukannya dengan cara meniatkannya untuk Allah SWT, dengan demikian maka Insya Allah seluruh langkahnya akan bernilai ibadah.

Bersilaturahim Karena Allah

Bersilaturahim Karena Allah

Suatu saat, selepas melaksanakan shalat di Masjid Nabawi, Madinah, Rasulullah SAW berbagi sapa dan berbincang-bincang dengan para sahabat tentang pelbagai hal. Dalam pertemuan tersebut, beliau berupaya memberikan dorongan kepada kaum muslim untuk saling mencintai karena Allah dan demi meraih ridha-Nya.

Beliau pun menceritakan sebuah kisah. “Wahai sahabat-sahabatku,” tutur beliau, ”suatu ketika ada seorang pria berkunjung kepada saudaranya di jalan Allah. Kemudian, Allah Swt mengirimkan malaikat untuk bertanya kepadanya.

Ketika bertemu dengan orang itu, malaikat itu pun bertanya,”Wahai saudaraku ! Engkau hendak kemana?’

“Aku hendak mengunjungi saudaraku si Fulan!” jawab orang itu.

“Apakah keperluanmu kepadanya?” tanya sang malaikat penuh selidik.

“ Tidak ada !” jawab orang itu.

“Apakah dia mempunyai hubungan kekeluargaan denganmu?” tanya sang malaikat lebih jauh lagi.

“Tidak!” jawab orang itu.

“Apakah karena dia pernah memberimu sesuatu?” tanya sang malaikat sekali lagi.

“Tidak !”, jawab orang itu.

“Kalau begitu, apa sebabnya engkau berkunjung kepadanya?” tanya sang

malaikat.

“Aku mencintainya di jalan Allah!” jawab orang itu.

“Wahai saudaraku,” ucap sang malaikat memberi tahu orang itu, “sesungguhnya Allah Swt.mengutusku kepadamu untuk menerangkan bahwa Dia mencintaimu karena cintamu kepadanya, dan Dia mengharapkan surga untukmu!”

Sumber : buku “Mutiara Akhlak Rasulullah SAW”

Selasa, 12 Februari 2013

Sisindiran Anaking Jimat Awaking

Mangga  regepkeun Sisindiran Anaking Jimat Awaking di handap ieu: 
...................................
Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Sing jauh tina maksiat anaking
Ngarah salamet akherat
................................... 
Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Susah senang omat sholat anaking
Beunghar kade poho zakat
...................................
Jampe-jampe harupat
Pek dudunya satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek hirup saumur dunya
...................................
Jampe-jampe harupat
Prak ibadah satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek cacap engke sareupna
...................................
Dodoja datang tong kalut
Sanghareupan make imut
Ulah rek aral subaha anaking
Sing percaya ka nu kawasa
...................................
Maha welas maha asih
Moal aya pilih kasih
Sagala nu karandapan kuhidep
Tangtuna bongan sorangan
...................................
Ti bapa ieu pepeling
Ngarah hidep hirup salawasna eling
Heunteu berang heunteu peuting
Hidep kudu soleh satungtung nyaring

Anaking Jimat Awaking

Anaking … jimat awaking ...
Heunteu gampang nalika nyorang jalan kahirupan, moal salawasna cicing dinu datar, tinangtu bakal pinanggih wanci mudun jeung tanjakan, kudu sabar hidep nalika kurang tur omat ulah nepak dada benghar, adigung adiguna, asa aing uyah kidul, agul kupayung butut!! ” Omat hidep bisi kupur, kudu eling kanu Maha-Gafur, nyembah kanu maha kawasa, turut kana papagon agama nyumponan parentahna ngajauhan larangan nana, Tah iyeu anaking pepeling keur diri papatah keur awak, badan sakujur inggis laku lampah nincak salah.