Kamis, 07 Februari 2013

Conto Pupuh


Eling – eling mangka eling
Rumingkang di bumi alam
Darma wawayangan bae
Lamun kasasar nya lampah
Mangsa nu matak kaduhung
Badan anu katempuhan
Lampah beunteur
Ku urang ulah ditiru
Aya cacing ngarengkol teu ditingali
Teu nyaho jerona aya useupan.

Antara Manusia dan Pendidikan Islam | Artikel Makalah

Antara Manusia dan Pendidikan Manusia sebagai PendidikLahirnya seorang anak diperlukan bantuan atau usaha untuk menyongsong suatu dunia yang tebuka yang serba mungkin, dalam hal ini orang tua/orang dewasa berperan dan mempunyai kewajiban mengulurkan tangan untuk mendidiknya ke arah kemampuan melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri dan bertanggung jawab. Bakat pembawaan bersama kelahirannya yang disebut “fitrah” dalam kehidupan manusia dengan bimbingan dan arahan melaui pendidikan.
Manusia dilahirkan dalam keadaan yang belum berspesialisasi dan belum terspesialisasi. Ia dilahirkan dalam keadaan belum dapat menolong dirinya sendiri, juga dalam hal–hal yang sangat vital bagi kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, pada masa itu dan masa setelah itu isi hidupnya masih perlu dibantu. Dengan kata lain, pada saat manusia berada dalam keadaan tersebut perlu bantuan, dan bantuan harus datang dari pihak lain. Tanpa bantuan dari pihak lain manusia tidak mungkin dapat melangsungkan hidupnya. Bantuan terebut tidak saja untuk kehidupan fisikya, akan tetapi juga kehidupan sosialnya. Dalam hal ini orang tua dan para pendidik sangat bertanggung jawab untuk kelangsungan pendidikan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang antara kedua pihak, yang selanjutnya memungkinkan lahirnya saling identifikasi antara keduanya.
Pada dasarnya anak yang lahir belum tersepesialisasi itu, ia harus mempersiapkan diri dan mendapatkan suatu cara dalam melaksanakan kehidupan dan tugas hidupnya kelak. Dengan kata lain, ia harus menentukan keperibadiannya, ia harus menentukan eksistensinya. Ia harus menentukan arah hidupnya. Ketika ia sudah berada di tengah- tengah kehidupan, ia harus belajar hidup. Dengan demikian berarti manusia mempunyai kesempatan untuk berlatih lebih lama, untuk melaksanakan hidupnya. Inisiatif dan kereasi manusia merupakan manifestasi dari hakekat manusia sebagai mahluk yang bebas. Dan modal kebebasannya itu, manusia mengarungi kehidupannya, menghadapi dan menghidupi dunianya. Inisiatif merupakan penggerak bagi eksplorasinya di dalam dunianya daya kereasi merupakan penggugah manusia untuk bereksperimen dengan imajinasinya.
Inisiatif dan daya kereasi ini hanya dapat terlaksana melalui bimbingan dan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan hidup manusia. Inisiatif dan daya kereasi, penemuan dan penciptaan alat yang serasi dutujukan ke arah kemampuan penanggulangan yang dihadapi dan dihidupi dalam istilah “ menghidupi “ dan “ menghadapi “ lingkungan, tersirat bahwa manusia itu bersikap ganda terhadapnya. Pada suatu pihak manusia menyatu dengannya, ia tidak dapat lepas dari padanya, ia ada di dalamnya. Ini suatu realitas. Maka, dalam segala tingkah laku perbuatannya ia harus menghitung dan memperhatikan lingkungannya.
Menurut Soelaeman bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari lingkungannya, tersirat pula dalam konsep “ posisi eksentris “ manusia terhadap lingkungannya. Artinya, manusia tidak selesai dalam dirinya sendiri. Ia tidak berpusat pada dirinya sendiri. Pusat manusia ada diluar dirinya. Ia menggerak ke dunia luar dirinya, Tuhan dan lingkungannya, termasuk pertautannya dengan lingkungan budaya dan sosial, sebagaimana telah diuraikan pada bahasan sebelumnya.
Manusia sebagai mahluk yang dapat didik sebagaimana yang durumuskan oleh Langevel merumuskan manusia sebagai “animal cducandum“ sebagai “hewan” yang perlu didik, agar ia dapat melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri. Secara implisit, rumusan ini mencakup pula pandangan bahwa manusia itu adalah “animal educable“, bahwa manusia itu adalah “ hewan ‘ yang dapat didik sekiranya tidak dilandasi anggapan, bahwa manusia dapat didik.
Manusia sebagai hewan yang perlu didik, yang berasumsikan pada suatu pandangan bahwa manusia sebagai mahluk yang dapat didik. Akan tetapi sebaliknya, pandangan bahwa manusia dapat dididik tidak dengan sendirinya, mengimplikasikan bahwa manusia perlu didikan. Jadi kita ini dihadapkan kepada pertanyaan, apakah manusia itu memang perlu mendapatkan pendidikan? Untuk memungkinkan seorang bayi kelak hidup sebagai manusia dan melaksanakan tugas hidup kemanusiaan, ia perlu didikan dan dibesarkan oleh manusia dalam lingkungan kemanusiaan. Dengan perkataan lain, ia harus “dimanusiakan“. Oleh karena itu, pendidikan ada kalanya pula disebut sebagai “pemanusiaan manusia “.
Jelaslah, bahwa kemanusiaan berjalan tegak di atas kedua kakinya, kemampuan bicara manusia dan perbuatan-perbuatan lain yang dianggap lazim dilakukan manusia, merupakan hasil belajar dari lingkungannya, di bawah bimbingan orang lain. Adapun lebih jelasnya Sanusi mengungkapkan bahwa pendidikan disini sebagai peroses mendidik atau membelajarkan peserta didik yang diasumsikan sebagai mahluk yang mempunyai beberapa fungsi seperti membantu, menumbuhkan dan mentransfortasikan nilai-nilai positif sambil memperdayakan serta mengembangkan potensi-potensi peserta didik.
Dengan demikian, suatu keharusan bahwa manusia itu ialah makhluk yang perlu dididik, selanjutnya pendidikan dapat dikelompokan menjadi dua aspek yaitu pendidikan umum dan pendidikan agama Islam sebagai mana tertera dibawah ini.

Pendidikan Umum
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa asal kata “ pendidikan “ adalah “ didik “. Apabila ditambah awalnya “ me “, menjadi “ mendidik “ artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan, diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan akhlak dan kecerdasan pikiran. Jadi, pengertian pendidikan ialah peroses pengubahan sifat dan tingkah seorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.

Persoalan batas pendidikan diartikan ada sebuah anggapan bahwa pendidikan ada batasnya. Sejauhmana pendidikan dapat mendidik anak didiknya? Pertanyaan ini dapat dijawab dari tiga sudut pandang, dari sudut pandangan waktu pelaksanaannya, dari sudut pandang tujuan dan dari sudut pandang pribadi yang bersangkutan.

Bila mengkaji masalah pendidikan secara luas, merupakan dasar kepribadian, kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kemajuan sosial pada umumnya. Kemajuan ilmu telah mengubah cara berfikir manusia saat ini. Ilmu telah menjadi dasar perkembangan teknologi. Sedangkan teknologi telah menjadi tulang punggung pembangunan dan kehidupan modern dalam meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia.

Pendidikan bertujuan untuk membina dan membekali setiap anak didik untuk memperoleh kemampuan dalam nilai, sikap, keterampilan pengetahuan, kecerdasan berkomunikasi, yang dapat berguna terutama bagi dirinya, bagi keluarganya, masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Sependapat dengan Hamijoyo bahwa perkembangan negara yang sudah membangun yang ditandai oleh kemajuan dalam berbagai hal, seperti kemajuan ilmu dan teknologi, industri, mental dan spiritual, maka pendidikan harus dapat menunjang pembangunan bangsa dalam arti yang iuas.

Pendidikan harus dapat menunjang pembangunan bangsa dalam arti yang luas, yaitu menghasilkan tenaga-tenaga pembangunan yang terampil, menguasai ilmu dan teknologi sesuai dengan kebutuhan pembangunan ekonomi, dan bersama dengan itu mendidik manusia, masyarakat Indonesia modern dan berpandangan hidup Pancasila.

Pendidikan sebagai peroses meningkatkan nilai individu atau masyarakat dari keberadaan tertentu menjadi suatu keadaan yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003, bahwa tujuan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar dan peroses pembelajaran peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pendidikan Islam 
Pendidikan Islam menurut Muhtar Buchari berarti: a) segenap kegiatan yang dilakukan seorang atau lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa; atau b) Keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yang mendasarkan segenap program, kegiatan, maupun pandangan pendidikannya berdasarkan ke islaman.

Langgulung memperjelas bahwa pendidikan bukanlah sekedar pengajaran pengetahuan dan keterampilan-keterampilan pemikiran serta pengetahuan tehnik, seperti halnya pandagang ekonomi yang sempit. Pendidikan adalah proses pengembangan sosial, pengembangan jasmani, pemikiran, intelektual, emosi, dan akhlak yang berfungsi menyiapkan individu agar memberi sumbangan efektif dalam kehidupan sosial, yakni menyiapkan manusia aktif dan kreatif dalam segala bidang. Dengan demikian, manusia sebagai makhluk berpendidikan ia dituntut untuk mencari ilmu sesuai dengan hadits Nabi SAW., yang artinya : “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat “. Selanjutnya ilmu itu harus diamalkan sepanjang hayat ditengah masyarakat. .

Secara luas program pendidikan Islam bertujuan menciptakan kebudayaan Islam dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan kepada nilai-nilai dan norma-norma Islam yang berorientasi kepada Tuhan pencipta alam semesta dan menjadi dasar pengembangan sikap, dedikasi dan moralitas hidup dan kehidupan atau berhubungan dengan sesama manusia sebagai dasar pengembangan hidup sosial dan budaya serta berorientasi ke arah hubungan alam sekitarnya sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan.

Manusia sejak lahir selalu berinteraksi dengan manusia lain, seperti bayi yang disuapi jika ingin makan dan begitipun manusia dewasa, jika ia tidak mampu mengerjakan sesuatu ia meminta bantuan orang lain. Selanjutnya, bahwa manusia hanya akan menjadi manusia kerena pendidikan. Mendidik “memanusiakan manusia “ untuk menjadikan manusia yang beriman diperlukan pendidikan . Yang pasti pendidikan disandarkan pada ajaran-ajaran al-Quran dan hadits.

Sebagaimana Langgulung mengatakan bahwa perkembangan fitrah manusia adalah aspek tertinggi dari tujuan pendidikan. Menurut Ia “ fitrah “ itu adalah sifat-sifat Tuhan yang ditiupkan kepada manusia sebelum lahir dan pengembangan sifat-sifat itu adalah dengan beribadah kepada Allah sesuai dengan firman Allah QS al-. Dzariat: 56, artinya : “ Tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka menyembah (Ibadah) kepada-Ku”.

Selanjutnya Arifin menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia melalui pelatihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan, dan indera.

Menilik pada uraian diatas bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya kepribadian muslim yang paripurna dalam mengembangkan dunia akhirat yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt (Mahpuddin Noor, 1989 ; 15). Dengan kata lain, pendidikan Islam selalu menempatkan pada pembentukan hati nurani, menanamkan dan mengembangkan sifat-sifat Illahinya yang jelas dan pasti, baik dalam hubungan manusia dengan Yang Maha Perncipta, dengan sesamanya, maupun dengan alam sekitar.

Lebih jelasnya menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya, bahwa pendidikan Islam sebagai sebuah usaha sistematis, memerlukan teori atau ilmu untuk melaksanakannya. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa, pendidikan Islam adalah pengembangan seluruh potensi anak didik secara bertahap menurut ajaran Islam. Dengan demikian, teori yang dibutuhkan untuk memandu atau sebagai pedoman dalam melaksanakan pendidikan Islam tersebut, seharusnya merujuk pada ajaran Islam.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manusia sebagai makhluk pendidikan, ia selalu bersosialisasi dengan lingkungan dan masyarakat, baik didalam keluarga maupun diluar lingkungan keluarga. Manusia sangat membutuhkan hidup dan kelangsungan hidupnya, ia memerlukan bimbingan, arahan, bantuan dan pendidikan merupakan dasar untuk mencapai kehidupan yang bermanfaat dalam meningkatkan kepribadian manusia yang terdidik. Sebagai pendidik, sebagai manusia yang berpendidikan baik jasmani maupun rohani ke arah kemampuan manusia yang sermpurna.

Adalah amat dinamis makna firman Allah dalam kitab suci al-Quran yang menyatakan, bahwa “ Allah tidak akan merubah nasib sesuatu bangsa (umat) sehingga mereka berusaha keras untuk merubah nasibnya sendiri “ (QS.Ar-ra’du: 11). 
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat..

Baca juga artikel menarik tentang Pendidikan Diskriminasi Ilmu Umum dan Ilmu Agama.

Manusia Makhluk Sosial Budaya

Manusia sebagai makhluk sosial
Kata sosial berasal dari kata socius (Latin). Ini bermakna dan mengandung arti bersatu, terikat, sekutu, dan peserta. Setiap manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan tak berdaya. Ia memiliki insting atau hasrat hidup bersama, yang dalam istilah agama disebut “fitrah”. Individu membutuhkan orang lain untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia. Manusia memiliki kesamaan – kesamaan umum yang memungkinkan mereka membangun bersama – sama dalam kehidupan bermasyarakat. Pribadi bukan untuk diri sendiri saja, melainkan bagi sesama dalam kehidupan bersama, yaitu kebersamaan dalam hubungan sebagai pribadi dan warga masarakat, di tengah lingkungan sosial dan alam yang dianugerahkan Allah Swt kepada makluknya.
Dalam masyarakat terdiri atas manusia individu yang unik dalam berbagai kelompok yang heterogen dan beragam latar belakang. Mereka hidup bersama dalam keluarga, masyarakat, negeri, bangsa dan dunia. Tiap kelompok dengan individu – individu warganya dicita – citakan menyatu dalam keagamaan. Dalam kelompok besar masyarakat bangsa dan Negara kita inginkan terwujud kebersamaan dari berbhineka tunggal ika. Pendidikan adalah media utama untuk mewujudkan keunikan perkembangan kepribadian tiap manusia sebagai peserta didik dalam hubunga kebersamaan.
Pendapat Sinolungan bahwa kebersamaan lebih dimungkinkan oleh adanya kesamaan umum (komonalitas) pada tiap keluarga dalam suatu masyarakat. Manusia dengan kesamaan umum atau komonalitas dan individualitasnya selaku totalitas homo trieka perlu saling menerima, mengormati keberadaan, dan saling bantu dalam kebersamaan.
Sebagai kelompok sosial yang paling melekat dengan individu, keluarga juga menjadi tempat meletakan landasan – landasan keimanan dan ketakwaan (IMTAK) individu yang masih muda belia kepada Al – Khalik Yang Maha Esa. Keluarga sebagai lembaga sosial yang dikenal dan menjadi wadah pertama serta utama pembina individu menjadi makhluk sosial, keluarga mempunyai multi fungsi dalam berbagai dimensi kehidupan. Selain itu keluarga juga wajib menjamin kesejahteraan materi para anggotanya.
Di dalam undang–undang No. 02 Tahun 1989 Bab II pasal IV Sumaatmadja menyebutkan tentnag tujuan pendidikan nasional yaitu : “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki budi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesejahteraan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Berdasarkan konsep tujuan pendidikan di atas, keluarga adalah sebagai lembaga pendidikan dalam membina manusia Indonesia, untuk menciptakan SDM yang berkualitas dimasa mendatang, menjadi tantangan dan tuntutan keluarga untuk menciptakan suasan yang serasi dalam membina anak – anak menjadi anggota masyarakat (makhluk sosial) sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang ber-Pancasila.

Manusia sebagai makhluk budaya
Manusia sebagai makhluk hidup yang lahir dimukabumi, namun demikian manusia telah membawa perubahan yang sangat cepat dan besar pada bentangan alam yang ditempatinya. Budaya sebagai hak paten manusia, artinya secara biologis manusia sama saja dengan hewan dilahirkan dengan kelengkapan organ tubuh yang menjadi bagian dirinya ditengah – tengah alam lingkungan yang sama dengan apa yang dialami makhluk hidup lainnya. Meskipun demikian manusia tidak terperangkap oleh hal–hal yang alamiah saja. Manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, mampu melepaskan diri dari keterbatasan – keterbatasan baik keterbatasan nalurinya maupun keterbatasan fisik – biologisnya. Hal yang paling bermakna bagi manusia, akal dan kemampuan intelektualnya. “berkembang dan dapat dikembangkan”.
Perkembangan dan pengembangan akal pikiran manusia menghasilkan apa yang disebut “kebudayaan”. Konsep tentang kebudayaan sendiri asalnya dari bahasa Sanskerta, kata buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti “ budi “ atau akal “. Oleh karena itu, kebudayaan dapat diartikan sebagai “ hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal “. Kata ”kebudayaan” berarti usaha dan hasil usaha manusia menyelesaikan keinginan dan kehendak untuk hidup dengan alam yang ada disekelilingnya, kebudayaan manusia akan selalu mengalir ibarat air sungai menerima dan memberi, merupakan sejarah hidup manusia di dunia .
Selanjutnya menurut pendapat C.P.Kottak sebagai berikut :
All human population have culture, which is therefore a generalized possession of genus homo.This is Culture (capital C) in ? general sense, a capacity and possession shared by homonids .Finnaly there is cultural learning.This depends on the uniquely developed human capacity to use symbols,signs the have no necessary ornatural connection with the things for which they stand.
Berdasarkan pernyataan Kottak di atas, kebudayaan itu merupakan milik umum dari jenis manusia, kemampuan yang hanya dimiliki oleh manusia. Kebudayaan ini merupakan hasil belajar yang sangat bergantung pada pengembangan kemampuan manusia yang unik dalam memanfaatkan simbol, tanda – tanda atau isyarat, yang tidak ada paksaan atau hubungan alamiah dengan hal–hal yang mereka pertahankan.
Selanjutnya menurut Imran bahwa kebudayaan merupakan sinonim dari perilaku. Akan tetapi variasi dalam perilaku yang diamati termasuk ke dalam jajaran tertentu dan memperlihatkan distribusi tertentu dalam jajaran.
Karakteristik perilaku inilah yang memungkinkan antropologi untuk membangun “konstruk kebudayaan” dengan membentuk rata – rata dari variasi tertentu yang dimasukan ke dalam masing –masing pola budaya yang nyata dan kemudian menggunakan rata – rata ini sebagai simbol bagi pola budaya yang sebenarnya.
Problem – problem yang dihadapi manusia dalam kebudayaan modern, dimana kebudayaan lebih dominan pada saat ini, semangatnya berasal dari cita – cita Barat untuk melepaskan diri dari agama. Dalam masyarakat modern yang berteknologi tinggi, manusia menghadapi mekanisasi kerja. Yakni alat-alat produksi baru yang dihasilkan oleh teknologi modern dengan proses mekanisasi, otomatisasi, dan standarisasi.
Ternyata manusia cenderung menjadi elemen yang mati dari peruses produksi.Teknologi modern telah memperbudak manusia sekedar menjadi otomat dari proses produksi, memperbudak masyarakat untuk mengkonsumsi kebutuhan - kebutuhan semu yang diproduk olehnya.
Manusia yang semula merdeka, yang merasa menjadi pusat dari segala sesuatu, kini telah diturunkan derajatnya menjadi tak lebih sebagai bagian dari mesin. Mesin raksasa teknologi modern. Karena itu manusia di zaman modern ini menjadi terbelanggu oleh proses teknologi. Ia teralienasi dari kerjanya sendiri, sesamanya dan masyarakatnya.
Masyarakat yang telah mencapai tingkat modern, bukan dikatakan kebudayaannya modern, melainkan pradabannya modern. Contoh dalam sejarah dikatakan “peradaban Mesir Kuno”, bukan ”kebudayaan Mesir Kuno”, yaitu Mesir saat itu telah ada pada tahap kebudayaan maju yang dicirikan oleh tingkat penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang telah maju. Padahal untuk masyarakat lain saat itu, masih belum mencapai tingkat kebudayaan yang disebut peradaban tersebut.
Sumaatmadja berpendapat bahwa suatu masyarakat yang telah mencapai peradaban tertentu, berarti telah mengalami evolusi kebudayaan yang lain dan bermakna sampai tahap tertentu yang diakui tingkat IPTEK dan unsur–unsur budaya lainnya. Pada akhirnya proses modernisasi ini akan menghasilkan “manusia modern”. Selanjutnya Alex Inkeles, menyatakan bahwa dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kemodernan seseorang, maka pendidikan yang paling utama. Derajat kemodernan seseorang berbanding lurus dengan tingkat pendidikannya. Oleh karena pendidikan menempati kedudukan, fungsi dan peranan sangat penting serta bermakna dalam meningkatkan derajat kemodernan orang yang bersangkutan.
Proses modernisasi dalam kehidupan masyarakat banyak sedikitnya dipengaruhi dalam ke hidupan keberagamaan seseorang yang sangat kuat kekuasaannya tertanam dalam hati sanubari setiap insan. Pengaruh agama itu dapat menjadi kuat atau lemah berdasar kuat lemahnya, kepercayaan kepada agama itu.
Manusia yang beragama tentu dalam hidup dan kehidupannya akan terlihat pengaruh agama yang dianutnya. Agama dan kebudayaan sebagai pandangan hidup dan hasil kreativitas manusia, tidak terlepas oleh arus perkembangan zaman dan modernisasi kebudayaan itu. Keunggulan tersebut tercermin dalam prestasi mengagumkan yang mengarah pada kesempurnaan hidup. Menggambarkan kebudayaan, Pranjoto mengungkapkan, didalam kontak kehidupan sosial budaya, dapat kita saksikan bagaimana para ilmuwan, sejarawan, para sarjana dan para filosof memanfaatkan konsep budaya zamannya untuk merumuskan pandangan hidup yang artistik yang religius, humanistik, dan saintifik. Karya – karya dari tokoh semacam Palto, Heigel, Dewton, Picasso, Dewey, Einsten adalah contoh dari produk budaya yang dilandasi oleh kehidupan zaman.
Kebudayaan dalam konsep Islam, sangat berkaitan dengan fungsi akal yang melahirkan perbuatan sadar manusia. Keharusan memahami wahyu dengan akalnya menjadikan akal berfungsi sebagai medium bagi manusia untuk mengerti kehadiran Allah SWT yang telah menciptakannya.
Berfungsinya akal kemudian mendorong berkembangnya ilmu dan selanjutnya berdasarkan ilmu yang dikemukakannya, manusia melakukan tindakan berpola dan lahirlah kebudayaan. Dengan demikian, kebudayaan dalam Islam merupakan media manusia untuk memberdayakan dirinya dalam berhubungan dengan Allah SWT dan alam sekitarnya (Hablum minallah wa hablum minal alam).
Kemudian menurut pendapat Arifin bahwa meletakkan agama pada posisi dan fungsi yang mampu menjadikan agama tersebut ke arah dinamika hidup manusia dalam pengembangan ilmu, teknologi dan seni serta kemasyarakatan dan kenegaraan dan sebagainya. karena agama dalam posisi dan fungsi demikian, maka agama tidaklah menjadi penghalang/penghambat kemajuan, sekurang – kurangnya sebagai katalisator problem – problem kehidupan. Sudah barang tentu agama yang dapat diharapkan untuk berperan demikian adalah agama yang ajaran – ajarannya secara intrinsik dan ektrinsik memberikan pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam rangka mengembangkan kebudayaan yang berfungsi untuk memberdayakan dan mensejahterakan umat manusia nampaknya kita tidak dapat melupakan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi, sebab ilmu dan pengetahuan memegang peranan sentral dalam melahirkan bentuk – bentuk kebudayaan.
Pendapat Amin Rais, ada dua ekstrimitas respon yang diberikan manusia apabila kepadanya diajukan ramalan tentang kecenderungan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan.
Ekstrim pertama, akan melihat kecenderungan tersebut secara optimis berlebihan dan beranggapan mesti begitulah kehidupan modern. Mereka menganggap ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai variable perubahan bersifat mutlak dan dominan.
Ekstrim kedua, justru melihat secara pesimis berlebihan. Mereka melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber bencana bagi masa depan manusia.
Menurut pendapat – pendapat di atas, nampaknya merupakan pandangan yang terlampau berlebihan dengan hanya didasarkan atas keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini secara sepihak. Padahal sebenarnya jika dipahami secara konseptual menurut Ali Syariati, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan cabang studi yang berkenaan dengan dunia fisik dan fenomenologi. Sedangkan menurut Amin Rais, pada kaitan ini bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan image mental manusia mengenai hal yang kongkrit dan bertugas menemukan hubungan prinsip, kualitas, karakteristik dalam diri manusia, claim dan entitas – entitas lainnya, serta berarti juga penerapan pengetahuan teoritis pada masalah – masalah praktis (the application of theoretical knowledge to practical problem). Pengetahuan dan teknologi menurutnya hanyalah merupakan alat aktualisasi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya.
Sesuai dengan pendapat tersebut di atas, Marwah Daud menambhakan bahwa keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membantu manusia untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dapat membantu manusia mensyukuri nikmat Allah dan membantu manusia menjalankan tugas kemanusiaannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan rahmat dari Allah Swt yang dapat membantu manusia meningkatkan taraf kehidupannya, dan mempertahankan kehidupannya sebagai wujud fungsinya.
Sehubungan dengan pendapat di atas bahwa agama amat berpengaruh pada manusia dan kebudayaan perlu ditanamkan pada benak pemikir kita, demi kemajuan kebudayaan dan ilmu pengetahuan sebagai cita–cita bangsa dan kebangkitan Islam kembali di abad modern.

Rabu, 06 Februari 2013

Membuka Pintu Rizki Yang Barakah



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Ikhwani Rahimakumullah!
Predikat iman dan taqwa inilah yang senantiasa kita syukuri, sebab iman dan taqwa itu adalah dua daun pintu bagi terbukanya rizki kita yang penuh barakah, bukan rizki yang haram yang dilaknat Allah.
Al-Qur’an menegaskan (QS:7 Al-Araf: 96)
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Ibnu Katsir menjelaskan syarat-syarat iman dan taqwa itu adalah hatinya beriman pada apa yang dibawa oleh Rasulullah, membenarkan dan mengikutinya, bertaqwa dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan dan meninggalkan perbuatan keharaman. (Tafsir III hal: 100)
Ikhwani rahima kumullah!
Diantara buah-buah iman bagi kaum Mukminin antara lain adalah:
Pertama, taqwa itu sendiri, menjaga diri dari dosa, ancaman siksa, bahaya dan membuka pintu rizki karena Allah berfirman (QS; Ath Thalaq : 2-3):
Artinya: Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengada-kan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Jamaah Jum’ah rahima kumullah
Yang kedua, iman membuahkan pula taubat dan istighfar; yang akan menebar rizki untuk kita sekalian.
Amiril Mukminin Umar dalam beristisqa’ atau memohon rizki, hanyalah dengan istighfar (Ruhul Maani, 29/72-73)
Rasulullah bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ الاِسْتغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ غَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضَيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ (رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه)
“Barang siapa yang memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihan jalan keluar, untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka “(HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah)
Allah menegaskan pula dalam (QS: Hud: 3)
Artinya: Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

Ikhwani rahima kumullah!
Itulah taubat yang menyesali dan menghentikan dosa dan maksiat kemudian menggantikannya dengan amal shalih dan keridhaan sesama.
Ketiga: Iman membuahkan TAWAKKAL, yaitu berusaha dengan disertai sikap menyandarkan diri hanya kepada Allah yang memberikan kesehatan, rizki, manfaat, bahaya, kekayaan, kemiskinan, hidup dan kematian serta segala yang ada, tawakkal ini akan membukakan rizki dari Allah, sebagaimana janjinya dalam QS: 65 At-Thalaq: 3):
Artinya: Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memberikan contoh tentang bertawakkal yang sesungguhnya dengan bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُلِّهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُحُ بِطَانًا (رواه الترمذى).
“Sungguh seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakal niscaya kalian akan diberikan rizki sebagai-mana rizki-rizki burung-burung, mereka berangkat pergi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” (HR. Timidzi No. 2344).
Ikhwani rahima kumullah!
Keempat: Iman dan taqwa membuahkan taqarrub yang berupa rajin mengabdi bahkan sepenuhnya mengabdi beribadah kepada Allah lahir bathin khusu dan khudhu.
Beribadah yang sepenuhnya akan dapat membuka rizki Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

يَقُوْلُ رَبُّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ أَمْلأُ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلأُ يَدَيْكَ رِزْقًا، يَا ابْنَ آدَمَ، لاَ تُبَاعِدْنِي فَأَمْلأُ قَلْبَكَ فَقْرًا وَأَمْلأُ يَدَيْكَ شُغْلاً (رواه الحاكم، سلسلة الأحاديث الصحيحة)
“Rabb kalian berkata; Wahai anak Adam! Beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam! Jangan jauhi Aku, sehingga aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan”. (HR. Al-Hakim: Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah No. 1359).
Jamaah Jum’ah rahima kumullah
Kelima: Iman dan taqwa membimbing hijrah fisabilillah. Perubahan sikap dari yang buruk kepada sikap kebaikan, atau hijrah adalah perpindahan dari negeri kafir, menuju negeri kaum Muslimin, menolong mereka untuk mencapai keridhaan Allah (Tafsir manar, 5: 39)
Hijrah ini membukakan pintu rizki Allah dengan janjiNya dalam surat An-Nisa ayat 100:
Artinya: Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jamaah Jum’ah rahima kumullah
Keenam: Iman dan Taqwa membuahkan gemar berinfaq: Yaitu infaq yang dianjurkan agama, seperti kepada fakir miskin, untuk agama Allah. Infak manjadikan pintu rizki terbuka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji dalam QS: Saba: 39)
Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.
Meskipun sedikit, tetap diganti di dunia dan di akhirat (Tafsir Ibnu Katsir 3/595) jaminan Allah pasti lebih disukai orang yang beriman dari pada harta dunia yang pasti akan binasa (lihat At-Tafsir: Al-Kabir, 25:263) dan berinfak adalah sesuatu yang dicintai Allah (lihat tafsir Takrir wat Tanwir, 22:221).
Para malaikat mendoakan:

اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا.

“Ya Allah, berikanlah kepada orang-orang berinfak ganti” (HR. Bukhari No. 1442).
Dari Sabda Rasulullah:
فَهَلْ تُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخاري)
“Bukankah kalian diberi rizki karena sebab orang-orang lemah diantara kalian?” Begitu juga termasuk kelompok dhaif orang-orang yang mempelajari ilmu (lihat tafsir Al-Manar, 3:38).
Ikhwani Rahima kumullah,
Kemudian Ketujuh, Iman dan Taqwa membuahkan pula gemar ber-silaturahmi yaitu berbuat baik kepada segenap kerabat dari garis keturunan maupun perkawinan dengan lemah lembut, kasih dan melindungi (Muqatul Mafatih, 8/645)
Silaturahim ini menjadi pintu pembuka rizki adalah karena sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَاَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِيْ أَثَرِهِ فَلْيِصِلْ رَحِمَهُ.
“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahmi”. (HR. Bukhari No. 5985).
Silaturahim ini menyangkut pula kerabat yang belum Islam atau yang bermaksiat, dengan usaha menyadarkan mereka, buka mendukung kemungkaran atau kemaksiatannya. Namun bila mereka semakin merajalela dengan cara silaturahim ini maka menjauhi adalah yang terbaik, namun tetap kita mohonkan hidayah.
Kedelapan, melaksanakan ibadah haji dengan umrah, atau umrah dengan hajji yang tulus hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam:

تَابِعُوْا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يُنَفِّيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوْبَ كَمَا يُنَفِّي الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحِجَّةِ الْمَبْرُوْرَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ (أحمد والترمذي والنسائي وابن خزيمة وابن حبان).
“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesunguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat hilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur itu melainkan Surga.” (Ahmad No. 3669, Timidzi No. 807, Nasa’I 5:115, Ibnu Khuzaimah No. 464, Ibnu Hibban No. 3693)
Sidang jum’at rahimakumullah!
Terakhir marilah kita simpulkan agar kita senantiasa ingat apa yang menjamin kita untuk memperoleh rizki Allah yang berkah di dunia dan akhirat. Yaitu Taqwallah, Istiqhfar dan Taubat, Tawakal, Taqarrub dengan ibadah berhijrah, berinfaq, silaturrahim dan segera melaksanakan haji

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Islam; Kenikmatan yang Agung Dan Sempurna



Oleh: Asep Iwam Gunawan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Ma’ asyirol Muslimin Rahimakumullah
Segala puji hanya untuk Allah Rabbul ‘Alamin. Tiada Dzat yang patut disembah, diibadahi, dipuji dan ditaati , Dialah Al-Khaliq yang telah menurunkan Islam sebagai aturan yang adil, agung lagi mulia yang merupakan rahmat dan nikmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan oleh Allah kepada penutup para nabi dan Rasul Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam beserta keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikutnya yang setia berjuang untuk menyebarkan risalah Islam keseluruh penjuru dunia.
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
Nikmat yang sangat besar yang harus kita syukuri adalah iman dan Islam serta diciptakannya alam semesta untuk manusia, kemudian dipilihnya planet bumi sebuah planet yang nyaman untuk kita tempati, dan dibuatNya untuk alam semesta, termasuk manusia, suatu sunnatullah yang tidak pernah berubah, sebagaimana firmanNya:
“... Dan kamu sekali-kali tidak akan menjumpai perubahan pada sunnatulllah.” (QS. Al-Ahzab: 62) dan juga firmanNya:
“... Dan tidak akan kamu dapati suatu perubahan pada ketetapan kami itu.” (QS. Al-Isra’: 77)
Jika kita renungkan, planet bumi yang mengelilingi surya berenang dalam lintasan ellips, merengggang 147 juta km dan maksimal 152 juta km dengan kecepatan 29.79 km/detik, melahap tahun demi tahun dengan kecepatan 11,18 km/detik memulas siang dan malam . Andaikan saja tidak ada ketetapan /keteraturan dalam sunnatullah ini atau bumi dan planet lainnya tidak mau taat pada aturanNya, seperti kebanyakan sifat manusia, niscaya imbang centripental dan centrifugalnya(gaya/tarikan kedalam dan keluar) akan tersita fatal, lantas bumi akan anjlok ke perihelion dan ephelion lain, yang bisa menyulap bumi akan menjadi gersang ataupun beku sehingga menjadi pemukiman yang tidak membetahkan insan. Sungguh segala puji bagi Allah yang membuat sunnatullah ini bersifat tetap.
Jama’ah Jum’ah yang berbahagia.
Kita juga melihat keteraturan alam semesta ini pada dunia hewan dan tumbuh-tumbuhan. Mereka senantiasa tunduk kepada aturan-aturanNya, mereka senantiasa konsisten dengan aturan-aturan yang diciptakan untuk mereka. Ketika Allah telah membuat hidup mereka berpasang-pasangan, hampir tidak pernah kita jumpai, bahkan dalam sebuah kandang sekalipun tidak ada hewan jantan kawin dengan hewan jantan atau sebaliknya. Mereka semua tunduk dan bertasbih kepada Allah sebagaimana firmanNya:
“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi. Raja Yang Maha Suci,Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Jumu’ah: 1).
Akan tetapi wahai kaum muslimin yang mulia, manusia yang diberi kelebihan nikmat yang paling utama berupa akal, ternyata tidaklah cukup dengan aturan-aturan alam ini saja. Manusia dengan akal dan potensi hidup lainnya berupa kebutuhan jasmani,naluri dan hawa nafsunya ternyata bisa dan mampu melakukan penyimpangan dari aturan-aturan Allah, sehingga hal yang tidak kita temui dalam kandang ayam sekalipun justru saat ini kita temui pada kehidupan manusia, kita dapati pria kawin dengan pria, wanita kawin dengan wanita, bahkan manusia kawin dengan alat yang dibuatnya sendiri. Dari akibat ulah manusia semacam inilah kita bisa menyaksikan kerusakan yang dahsyat baik itu berupa penyakit kelamin, kerusakan moral dan kerusakan lain yang terjadi di darat maupun di laut.
Wahai kaum muslimin rahimakumullah!
Merupakan kenikmatan yang agung, sempurna dan satu-satunya yang akan menjamin tercapainya kebahagiaan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat, yang jika kita bandingkan dengan nikmat alam semesta ini, niscaya alam semesta dan dunia ini tidak berarti apa-apa, itu adalah nikmat Iman dan Islam, sebagaimana firmanNya:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu Ad-Dien (agama/jalan hidup)mu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Aku ridlai Islam menjadi dien-mu.” (QS. Al-Maidah:3)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
Islam dengan aqidah dan syari’ahnya,merupakan aturan sekaligus jalan hidup yang dibuat Allah, pencipta manusia. Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Adil dan Bijaksana yang tidak saja mengatur manusia dengan diriNya (dalam hal aqidah dan ibadah) tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lainnya dalam hal mu’amalah dan ‘uqubat (hukuman). Oleh sebab itu Islam merupakan karunia dan nikmat Allah, hanya dengannyalah dapat tercapai keserasian dan kebahagiaan hidup manusia. Tidak ada aturan lain yang bisa memanusiakan manusia semanusiawi mungkin selain aturan dari Pencipta manusia, karena siapa yang lebih tahu hakikat manusia selain Pencipta manusia?.
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Sungguh agung dan besar nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita berupa Islam dan sesungguhnya kita wajib mensyukurinya yaitu dengan menggunakan syariat Islam untuk mengatur aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman,masuklah kedalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian maengikuti jejak langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuhmu yang nyata.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Dan jika kita menginginkan nikmatNya dengan melecehkan aturan-aturanNya baik sebagian apalagi keseluruhan, sungguh kehinaan hidup di dunia dan azab Allah di akhirat yang akan kita terima, sebagaimana firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:
“Jika kalian bersyukur (terhadap nikmatKu) niscaya Aku tambah nikmatKu kepadamu dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) niscaya azabKu sangat pedih.”
Dan dalam ayat lain Allah menegaskan:
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaaha: 124).
Kaum muslimin rahimakumullah.
Dengan nikmat Allah yang berupa akal dan indra, marilah kita bersama-sama merenungkan kemudian kita bersyukur, betapa matahari yang besarnya 1.303.600 x bumi (satu juta tiga ratus tiga ribu enam ratus kali besar kali bumi) hanyalah ibarat setitik debu dalam galaksi (gugus bintang) Bima Sakti,maka bumi ibarat super debu yang hanya dapat dilihat di bawah mikroskop dan manusia adalah super-super debu yang tertata dari sari tanah, yang terjelma dari nutfah yang terpancar. Sungguh betapa besar jagat raya ini, dan batapa Maha Besar Pencipta jagat ini dan sungguh betapa kecilnya manusia bila dibandingkan dengan jagat raya ini, betapa sempurnanya Allah telah menurunkan ayat-ayat yang tersirat dalam alam semesta maupun yang tersurat dalam kitabNya, betapa tinggi dan luasnya ilmu Allah dan betapa kecil dan kerdil manusia, sehingga nikmat yang berupa akal ini justeru digunakan untuk mengkufuri nikmat yang lebih besar yaitu Islam, dengan akalnya kadang-kadang manusia merasa lebih tahu dari Allah, merasa sombong dan ujub. Sehingga merasa mampu untuk membuat aturan untuk mengatur dirinya sendiri, mengatur keluarganya dan orang sekelilingnya seraya berpaling dari ayat-ayat Allah, berpaling dari Islam, berpaling dari syari’atNya. Padahal jagat raya yang besar dan luas saja tunduk pada aturanNya, mengapa kadang-kadang menusia berpaling?, bukankah Allah telah berfirman:
“Dan siapakah yang lebih zhalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhanmu, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan dua tangannya. Sungguh kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, dan meskipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi:57)
Sungguh sangat rugi orang-orang yang berpaling dari syari’atNya, keseluruhan ataupun sebagian dan sungguh beruntung dan berbahagialah orang–orang yang senantiasa menjalani kehidupannya seraya menyesuaikan dengan perintah dan laranganNya, bahkan Allah telah menjamin suatu bangsa yang penduduknya beriman dan bertaqwa yakni menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dengan firmanNya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Maksiat Penduduk Negeri



إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Kaum muslimin rahimakumullah
Taqwa adalah bekal seorang hamba ketika ia menghadap kepada Sang Pencipta, bekal yang kelak menjadi hujah baginya di hadapan Tuhannya, bahwa kehidupannya dialam dunia telah dipergunakan sebaik-baiknya. Untuk itulah wahai kaum Muslimin sekalian, marilah kita perbaiki dan satukan niat serta tekad, untuk meraih predikat golongan mahluk Allah yang muttaqin yang selalu meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, untuk dapat mengambil apa-apa yang telah dijanjikan, berupa kehidupan yang baik di dunia dan Surga yang abadi kelak di akhirat.
“Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”. (Al-baqarah: 197).
“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa itu berada dalam Surga (taman-taman) dan (didekat) mata air-mata air yang mengalir”. (Al-Hijr: 45).

Kaum muslimin rahimakumullah
Allah ciptakan mahluk dan Allah sertakan bersama mereka nabi-nabi dan rasul-rasul sebagai utusan yang menerangkan dan menjelaskan konsep tatanan hidup selama berada di alam yang serba cepat dan fana ini, Allah turunkan pula kitab-kitab-Nyabersama para utusan-utusan itu, sebagai aturan main di dalam dunia, baik hubungan sesama mahluk, lebih-lebih hubungan mahluk dengan penciptanya. Di antara kitab-kitab yang Allah turunkan ialah Al-Qur'an, mu’jizat nabi mulia yang menjelaskan tuntunan Allah, aturan terakhir penutup para nabi dan rasul.
“Sesungguhnya kami telah pengutusmu (muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan”. (Al-Baqarah: 119).

Allah turunkan Al-Qur’an untuk menyelesaikan masalah-masalah di antara mereka dan juga untuk mengingatkan mereka akan yaumul mii’aad yaitu hari pembalasan terhadap apa-apa yang telah dilakukan oleh para penghuni alam dunia.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (An-Nalh: 44).

Kaum muslimin rahimakumullah
Akan tetapi di balik semua itu, realita yang terjadi, kita sering dan teramat sering dikejutkan dan dibuat prihatin dengan musibah yang acap kali menimpa negeri ini. Masih terngiang ditelinga kita peristiwa gempa bumi yang terjadi beberapa waktu yang lalu, yang memakan korban manusia dan memaksa mengungsi dari tempat-tempat mereka, banjir yang berulang kali terjadi di beberapa tempat, padahal baru kemarin kita merasakan beratnya kemarau panjang, gunung di beberapa tempat sudah mulai aktif dan memuntahkan isi kandungannya, huru-hara terjadi diberbagai kota diiringi hancurnya tempat-tempat tinggal dan pusat-pusat keramaian dengan kobaran api yang melalap baik materi maupun sosok-sosok jiwa sebagai pelengkapnya, pembantaian yang telah dan terus berlangsung secara biadab terjadi di beberapa tempat dan entah berapa tempat lagi yang akan terjadi di belahan negeri ini, busung lapar anak manusia negeri ini sering kita dengar meskipun katanya kita berada di negeri subur nan tropis, dengan disusul jatuhnya nilai rupiah yang mengakibatkan krisis moneter yang berdampak kemiskinan, pengangguran dan kelaparan masih saja kita rasakan, penyakit-pernyakit aneh dan kotor mulai merebak dan meng-gerogoti penduduk negeri ini dan berbagai musibah yang telah menghadang di hadapan mata, termasuk di dalam hancurnya generasi-generasi muda penerus bangsa ini disebabkan terha-nyut dan tenggelam bersama obat-obat setan yang terlarang.

Apakah adzab telah mengintai negeri ini, sebagaimana yang tersurat di dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 25, kaum Nuh yang Allah tenggelamkan dikarenakan mendustakan seorang rasul, atau kaum Tsamud yang disebabkan tak beriman, membusungkan dada dan menantang datangnya adzab, Allah jadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan dengan gempa yang mengguncang mereka, atau seperti kaum Luth yang dikarenakan perzinaan sesama jenis, homosexsual, Allah hujani mereka dengan batu, atau seperti kaum Madyan yang Allah jadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan disebabkan curang dalam takaran dan timbangan serta membuat kerusakan dimuka bumi dan menghalangi orang untuk beriman, atau seperti kaum ‘Aad yang disebabkan tidak memurnikan tauhid dan bersujud kepadaNya, Allah kirim kepada mereka angin yang sangat panas yang memusnahkan mereka.
Kaum-kaum terdahulu Allah hancurkan dan luluh lantahkan disebabkan satu dua kemungkaran yang dikepalai kesyirikan, sekarang bagaiman dengan kita, apa yang kita saksikan dan alami sekarang ini, apa yang terjadi ditempat kita, lingkungan kita, dikota kita, dan bahkan di seantero negeri kita?, maksiat terjadi dimana-mana, pergaulan lawan jenis dan perzinaan yang keluar dari norma-norma agama semakin menggila, ditambah lagi media-media masa visual dan non-visual ikut melengkapi ajang syaitan ini dengan dalih seni dan hak-hak manusia, padahal Allah dan RasulNya telah jelas-jelas mengharamkan hal tersebut. Firman Allah.
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk” (Al-Isra’: 32).
Dan dalam sebuah hadits shahih Rasul bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ.
“Barangsiapa di antara kalian yang menemui mereka yang melakukan perbuatan kaum Luth (homosexsual) maka bunuhlah kedua pelakunya”. (riwayat Abu dawud dan At-Tirmidzi).
Kemana hak Allah dan RasulNya?. Kecurangan dalam perniagaan yang terjadi pada kaum Madyan pun terjadi sekarang, kecurangan bukan hanya curang dalam timbangan secara zhahir, tetapi penindasan, tipu muslihat, sampai kepada sogok menyogok dan riba pun seakan suatu yang harus dilakukan, kemana firman Allah:

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang”. (Al-Muthaffifin:1).
Dan Rasulpun melaknat orang yang menyogok dan yang disogok, sebagaimana hadis shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.
Berbagai bentuk perjudian pun digelar, pembunuhan yang tanpa memperhitungkan nilai kemanusiaan dan agama pun terus terjadi silih berganti, padahal Rasul Shalallaahu alaihi wasalam telah memperingatkan untuk meninggalkan tujuh hal yang menghancurkan.

اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَالسِّحْرُ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلِّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ.
Yang artinya: “Jauhilah tujuh hal yang menghancurkan (membina-sakan)”. Bertanya para sahabat, apa itu yang Rasulullah?, bersabda beliau: “Syirik (menyekutukan Allah), membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali yang dibenarkan syari’at, sihir (tenung dan santet), memakan riba, memakan (menyelewengkan) harta anak yatim, lari dari pertempuran (karena takut), menuduh wanita baik-baik berzina”. (Ash-Shahihain).
Akan tetapi semua ini berlaku, perbuatan syirik yang merupakan biang malapetaka dunia dan akhirat kini seolah telah menjadi sesuatu kebutuhan, berapa banyak kita dapati media masa yang menjajakan kesyirikan, ulama-ulama sesat menyeru umat kepada perbuatan syirik dengan membungkus sedemikian rupa untuk menipu umat, dan kini mereka telah menancapkan kaki-kaki mereka.

Kaum Muslimin
Segala sesuatunya kini telah terbalik, yang hak dikatakan dan dianggap batil, yang batil dipertahankan, dan tidak malu-malu di hadapan yang hak.
Siapakah yang bertanggung jawab akan hal ini?, yang jelas kita semua bertanggung jawab, kita sebagai umara’, ulama maupun pribadi-pribadi muslim.“Jikalau sekiranya penduduk-penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf: 96).

Kaum Muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia.
Islam adalah satu-satunya ajaran yang menjamin ketenteraman dan kesejahteraan hidup, tidak saja di dunia, tetapi bahkan di akhirat, sebab ajaran ini adalah ajaran dari Dzat yang maha memberikan jaminan bagi kebutuhan insan.

Kaum Muslimin
Untuk menyelamatkan negeri dan umat ini tidak lain adalah kita kembali memurnikan dan menegakkan ajaran Allah pencipta kita, ketika umat semakin jauh dari ajarannya semakin gencar pula azab yang akan diterima dan ditimpahkan, oleh karena itu ada baiknya kita menilik kembali perkataan Syaikh Ali Hasan Al-Atsari bahwa tidak ada jalan lain dalam mengembalikan umat dan memperbaiki umat ini kecuali dengan tashfiyah dan tarbiyah sebagaimana yang disebutkan di dalam kitabnya “At-Tashfiah wat Tarbiyah”, “Bahwa kondisi yang buruk yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah akibat terlalu jauhnya mereka dari kitab Allah dan sunnah RasulNya “. Kenapa hal itu bisa terjadi, Syaikh Abdurrahman Ibnu Yahya Al-Muallimi Al-Yamani tokoh ulama salaf abad XIV H yang dinukil dalam buku At-Tashfiah wat Tarbiyah hal 19-20 bahwa hal itu terpulang pada tiga persoalan.

1.   Tercampurnya ajaran yang bukan dari Islam dengan ajaran Islam.
2.   Lemahnya kepercayaan orang akan apa yang menjadi ajaran Islam.
3.   Tidak adanya pengamalan (penerapan) terhadap hukum-hukum Islam.
أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ِليْ وَ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. أَمَّا بَعْدُ؛
Kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan oleh Allah:
Pada khutbah kedua ini, Syaikh Ali Hasan Al-Atsari melanjutkan dalam kitabnya bahwa ada tiga hal pokok yang mendasar dalam mengatur sistem tarbiyah (pembinaan) yang merupakan rangkaian dari tashfiyah.
1.   Menitik beratkan pada kebangkitan aqidah tauhid dan pembersihan dari segala bentuk bid’ah dan penyelewengan-penyelewengannya.
2.   Barometer semua pembinaan adalah Al-Qur’an dan As-Sunah. Dengan praktek-praktek yang diterapkan para salafus shalih dan ulama-ulama rabbani yang mengakar pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah.
3.   Bahwa tarbiyah haruslah menyangkut pengarahan umum yang erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, seperti keyakinan, norma-norma, adat-adat, tradisi, kegiatan kantor, politik, sosial dan seterusnya (At-Tashfiah wat Tarbiyah hal. 101).
Kaum Muslimin rahimakumullah
Yang terakhir. Apakah keadaan dan kenyataan yang menimpa kita selama ini tidak menjadikan kita berfikir dan berbenah diri untuk hidup yang akan datang, kehidupan abadi yang menentukan sengsara atau bahagia.
“Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur”. (Al-A’raf: 97).
“Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi”. (Al-A’raf: 99).

 رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Pilgub Jabar 2013

Masyarakat Jawa barat sebentar lagi akan menggelar Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013. Setiap individu senilai beragam dari mulai yang apatis, biasa-biasa saja atau sampai ada yang simpatik dan antusias.
Sebagai seorang Muslim tentunya menanggapi bahwa memilih pemimpin itu suatu kewajiban, tetapi yang bagaimanakah itu Pemimpin Ideal yang harus kita angkat?
Link Pemimpin Ideal 1a.mp3 akan mengarah pada kumpulan ceramah Al-Ustadz KH. Shiddiq Amien yang membeberkan secara rinci bagaimanakah seorang Pemimpin Ideal bagi seorang Muslim untuk memimpin suatu wilayah. Renungkanlah... dan semoga bermanfaat.
Download Ceramah Shiddiq Amien Pemimpin Ideal 1a.mp3
Download Ceramah Shiddiq Amien Pemimpin Ideal 1b.mp3